Karya, Kesempatan dan Dosa

Pada kurun waktu perjalanan hdup, kita memang berkali-kali perlu melabuh. Di tepi. Bermunajat. Kemudian meresapi. Namun setelah energi jiwa dan bahan bakar bahtera kita telah terisi cukup. Pastikan kalau kita cukup punya nyali melawan ombak menerjang badai samudera karya. Yang dengan ombak badai itulah semakin membuat kita beradaptasi dengan ganasnya samudera untuk tetap berkarya. Hingga saatnya nanti bahtera yang dibawa energi jiwa kita tidak lagi bertemu badai dan ombak, yakinilah bahwa kita ternyata sudah di tengah samudera. Yang tenang. Lirih kicaunya. Semilir sepoinya. Sedang kita dengan bebas menentukan lagi karya terbaik apa yang akan dipersembahkan pada Allah di sana. Hingga kita boleh jadi siap menjelajah samudera lain untuk berkarya sampai di pelabuhan sana. Ya, Syurga.

Seringnya kita merasa waktu ini terlampau cepat berputar sedang kita belum lagi mengoptimalkan sumberdaya untuk berkarya apa saja. Waktu seperti menggerus, membelah, dan menikam kesempatan-kesempatan yang kita miliki. Lengah sedikit, kita tertikam. Dan nampaknya pernyataan bahwa waktu adalah pedang (time is sword) cukup relevan dalam hal ini. Sebab kerapkali, ia, waktu, tidak punya sarung toleransi yang pada potongan waktu tertentu tidak menikam diantara kita. Ini yang membuat kita sebagai muslim kerapkali khawatir tidak menjadi lebih baik untuk hari ini atas hari kemarin. Atau sumber daya yang telah dianugerahkan Allah SWT tidak tersyukuri dalam bentuk amal dan karya kebaikan nyata. Tapi dipenghujung hari kita sealu menyadari dan memperbesar harapan atas segala pengorbanan kita mengupayakan karya. Peluhnya. Helaan-helaan nafasnya. Dan tetesan-tetesan keringatnya. Semua menjadi penggugur dosa saja. Yang jika peluh menghasilkan helaan-helaan nafas. Lalu helaan-helaan nafas menghasilkan keringat di sekujur badan, jadikan ia alasan untuk berdoa pada Allah agar sebelum ia jatuh menyentuh bumi yang tandus, telah terhapus sudah dosa-dosa kita. Sebagaimana tetesan darah para syuhada yang terhapus dosanya sebelum ia sempat jatuh ke bumi. Dan cepatnya waktu dengan demikian, tidak mampu menikam kesempatan dosa kita gugur dari “bahu-bahu’ kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manusia (Insan) Sebagai Objek Kaderisasi

Ketuban Pecah Dini Tak Harus Berakhir Operasi Caesar

Konsep Dasar Akuntansi